Memahami Tokoh Utama If Cats
Disappeared from the World
Membaca novel karya Genki
Kawamura. Tokoh utamanya seorang tukang pos muda yang menjalani hidup tenang
namun datar tiba-tiba harus berhadapan dengan tembok besar yang menghalangi
masa depannya.
Titik Terendah: Vonis dan
Munculnya Sang Iblis
Segalanya bermula dari sakit
kepala yang dianggap biasa. Namun, diagnosis dokter menghancurkan dunianya
dalam sekejap: tumor otak stadium lanjut. Ia divonis tidak akan hidup lama
lagi. Bayangkan, di usia yang masih produktif, tiba-tiba ia harus menghitung
mundur hari kematiannya sendiri.
Dalam kondisi frustrasi,
ketakutan, dan kesepian di rumahnya, muncul sosok eksentrik yang menyebut
dirinya Iblis (yang kemudian dipanggil Aloha karena penampilannya yang santai
dengan kemeja bunga-bunga). Iblis ini hadir bukan dengan api neraka, melainkan
dengan sebuah tawaran yang sangat menggoda bagi siapa pun yang sedang sekarat: satu
hari tambahan umur untuk satu benda yang dilenyapkan dari dunia. Di sinilah
letak konflik batin sang tokoh utama dimulai. Ia terjebak dalam insting dasar
manusia untuk bertahan hidup, meskipun ia harus membayar harga yang sangat
mahal dengan menghapus hal-hal yang memberikan warna bagi dunia.
“To gain something, you have
to lose something.”
Perjalanan Kehilangan
Transformasi karakter ini tidak
terjadi secara instan, melainkan melalui serangkaian pengorbanan yang
menyakitkan dan kontemplasi yang mendalam.
Hilangnya Telepon dari Dunia
Benda pertama yang dipilih Iblis
adalah ponsel. Awalnya terasa mudah, namun sang tukang pos menyadari bahwa
ponsel adalah gudang kenangan. Tanpa ponsel, ia terpaksa menemui mantan
kekasihnya secara langsung. Di sinilah ia belajar bahwa teknologi sering kali
menjadi penghalang untuk perasaan yang jujur. Ia mulai memahami bahwa hubungan
manusia tidak diukur dari frekuensi pesan singkat, melainkan dari kehadiran
yang nyata.
Namun, di sisi lain, ia harus
menelan kenyataan pahit. Saat telepon lenyap, sejarah cintanya pun ikut
terhapus. Ia melihat mantan kekasihnya tak lagi mengingat dirinya, karena
pertemuan mereka dulu bermula dari sebuah salah sambung. Telepon adalah satu-satunya
pengikat mereka yang menghabiskan waktu bersama meski jarak memisahkan. Kini,
saat telepon hilang, kenangan itu menguap seolah-olah hubungan mereka tidak
pernah terjadi.
Hilangnya Film dari Dunia
Kehilangan kedua terasa lebih
personal. Film adalah satu-satunya jembatan antara ia dan sahabat baiknya,
"Tsutaya". Saat film lenyap, ia melihat sahabatnya kehilangan jati
diri karena tidak lagi memiliki referensi untuk berbicara.
Di titik ini, nuraninya mulai
terusik. Ia menyadari bahwa demi memperpanjang hidupnya, ia telah menghapus
gairah hidup orang lain. Sahabatnya yang ia kenal lewat kecintaan pada film
kini benar-benar melupakannya. Semua diskusi mendalam dan kenangan masa muda
mereka terhapus sepenuhnya dari memori sang teman. Ia mulai bertanya-tanya,
apakah hidupnya tetap berharga jika ia hidup dalam dunia yang asing?
“When the film disappeared, I
realized that I wasn't just losing moving images, but I was losing our way of
dreaming together.”
“Death is like the ending of a
movie. It gives meaning to what happened before."
Hilangnya Jam dari Dunia
Kehilangan jam membawanya pada
perasaan yang paradoks: antara kacau dan bebas. Selama ini, hidupnya diatur
oleh detik demi detik yang terus mengejarnya, apalagi setelah vonis dokter. Jam
adalah pengingat konstan bahwa waktunya hampir habis.
Ketika jam lenyap, ia merasa
kehilangan kendali atas dunia yang teratur, namun di sisi lain, ia merasakan
kelegaan yang luar biasa. Ia berhenti merasa terburu-buru. Ia menyadari bahwa
selama ini manusia terobsesi untuk "memiliki" waktu, padahal waktu
tidak pernah bisa dimiliki. Perasaan cemasnya perlahan berubah menjadi
penerimaan yang tenang. Ia tidak lagi menghitung berapa banyak sisa harinya,
melainkan mulai merasakan kualitas dari momen yang sedang ia jalani saat itu
juga.
“Humans are the only creatures
who created clocks and then became slaves to them.”
“If I disappear from this
world, who will remember me? And if I leave, what will change?”
Jika Kucing Menghilang dari
Dunia
Puncak dari evolusi karakternya
terjadi saat Aloha meminta kucing untuk lenyap. Baginya, Cabbage bukan sekadar
hewan peliharaan; kucing itu adalah satu-satunya peninggalan almarhumah ibunya.
Di sinilah ia akhirnya berhenti bersikap pasif.
Ia mengenang pesan ibunya bahwa
kucing memberikan kehangatan yang tidak bisa diberikan manusia. Memilih untuk
menghilangkan kucing berarti menghapus seluruh jejak kasih sayang ibunya dari
dunia ini. Pada tahap ini, sang tokoh utama mencapai kedewasaan spiritual. Ia
memutuskan untuk berhenti melakukan barter. Ia memilih untuk menerima
kematiannya sendiri daripada hidup di dunia yang kehilangan keindahan dan
kenangan tulus hanya demi egonya.
“Cats and humans have been
together for thousands of years. However, it is not humans who keep cats, but
cats who choose to be by humans' side.”
Memahami Ending: Menjadi
Manusia yang Utuh
Ending buku ini menawarkan
kedamaian batin. Tokoh utama akhirnya berani menemui ayahnya, sosok yang selama
ini ia hindari karena rasa canggung dan luka lama yang terpendam. Ia menulis
surat terakhir dengan penuh rasa terima kasih, bukan kemarahan atau penyesalan.
Ia menyadari bahwa kematian
bukanlah sebuah kekalahan. Justru karena hidup ini terbatas, setiap detik yang
dilalui bersama Cabbage dan setiap kenangan tentang orang tuanya menjadi begitu
berharga. Ia menutup hidupnya sebagai manusia utuh yang berhasil menaklukkan
ketakutannya akan kehilangan. Ia pergi bukan dengan hampa, melainkan dengan
hati yang penuh.
“The world is full of unimportant things, but it is precisely those unimportant things that make life feel alive.”

0 Komentar