Hilal
“Hey tunggu! Jangan lari lo!” teriak seorang pria
bertubuh besar, berkulit gelap dengan wajah sangar menunjuk pada seorang pemuda
kurus yang lari tunggang langgang saat bertemu dengannya. “Kejar dia!” teriak
pria itu pada dua temannya yang tubuhnya tidak kalah besar dan wajahnya tak
kalah sangar. “Siap Pak Jon!” angguk dua temannya itu dan langsung berlari.
Pemuda kurus itu berlari dengan cepat melewati
jalan-jalan sempit di perkampungan padat penduduk. Ia berlari tak henti dan
terlihat sangat hapal dengan jalan-jalan kecil di situ, tentu saja karena
pemuda itu memang lahir dan besar di lingkungan itu. “Heh Den, kenapa lo lari?”
tanya seorang bapak yang sedang duduk-duduk mengaso di depan rumah saat melihat
pemuda kurus itu berlari melintasinya.
“Olahraga Pak!” teriak Deni si pemuda kurus tanpa
mengurangi kecepatan larinya. “Olahraga? Kok siang-siang?” heran bapak itu
bicara sendiri. Ia semakin heran saat beberapa saat kemudian tiga orang pria
bertubuh besar juga berlari melintasinya. Ia mengerutkan kening lalu mengangkat
kedua bahunya tak peduli dan lanjut mengaso.
“Hey Deni, tunggu kau!” teriak Pak Jon. Deni tak
menggubris, ia terus berlari dan berbelok di ujung gang. “Sialan sekali manusia
satu itu! Awas saja kalau sampai kutangkap!” geram Pak Jon. Mereka terus saling
berkejaran melewati gang-gang sempit dan tiang-tiang jemuran. Deni yang
memiliki tubuh kurus bergerak lebih gesit dibanding ketiga pria di belakangnya
itu yang tampak sudah terengah-engah.
Deni kemudian berbelok lagi ke sebuah gang sempit.
“Aduh Pak Jon, dia kayak belut, susah banget ditangkapnya,” ucap anak buahnya
terengah-engah. Mereka berbelok dan tampak ibu-ibu tengah duduk berkumpul dan
ngobrol di gang tersebut. “Ibu-ibu, maaf menganggu rumpinya, apakah tadi lihat
pemuda kurus lari lewat sini?” tanya Pak Jon.
Ibu-ibu itu menatap Pak Jon. “Iya lihat, tadi dia lari
lewat sini, terus belok ke kiri tuh di depan sana,” jawab seorang ibu bertubuh
gemuk berbaju daster kembang-kembang oranye sambil menunjukkan arah. “Ibu kenal
sama anak muda itu?” tanya Pak Jon. Ibu itu menggeleng. “Ga Bang, saya belum
pernah lihat wajahnya, kayaknya dari kampung sebelah.” Pak Jon menghela nafas.
“Ya sudah, kita pergi dulu Bu, terima kasih.” Ibu itu mengangguk dan ketiga
pria bertubuh besar itu berlari lagi menuju arah yang ditunjukkan.
Setelah mereka menghilang, dari balik tembok pagar
rumah muncul kepala Deni. “Bu Ndut, mereka sudah pergi?” tanya Deni berbisik.
Ibu gemuk dengan daster kembang oranye itu mengangguk. “Udah aman,” ucapnya.
Deni keluar dari persembunyian. “Makasih ya Bu Ndut,” cengir Deni. “Untung saya
kenal deket sama ibu kamu Den, kalau engga saya ga mau ngebohongin orang,” kata
Bu Ndut. “Emang kamu kenapa sih dikejar-kejar mereka?” tanya seorang ibu lain.
“Biasa Bu, masalah laki-laki,” kata Deni. “Den, kamu
itu jangan bikin masalah, kasihan sama ibu dan adikmu loh,” nasehat Bu Ndut.
“Iya Bu, karena itu saya lagi menghindari masalah ini,” cengir Deni lalu pamit
pulang. Bu Ndut dan ibu-ibu lainnya hanya bisa geleng-geleng.
Senja mulai menampakan wajahnya, langit biru telah
berubah menjadi kuning keemasan. Angin berhembus menyejukkan suasana sore hari.
Rasanya baru saja menyaksikan matahari terbit, sekarang sudah terbenam saja.
Ternyata waktu sesingkat itu, cepat berlalu tidak terasa. Sore itu banyak orang
bersiap untuk pulang ke rumah setelah seharian bekerja atau beraktivitas.
“Niki, aku duluan ya. Selamat bekerja! Semangat!” seru
seorang perempuan pada temannya. “Ya Mey. Kamu juga hati-hati ya,” balas
Niki pada temannya itu. Mereka berdua baru saja menyelesaikan jam kuliah pada
jurusan farmasi di sebuah universitas.
“Ki, mau aku antar ke apotek tempat kerjamu?"
celetuk seorang pria teman mereka yang baru saja datang. “Enggak usah Bim, aku
‘kan bawa sepeda,” geleng Niki sambil berjalan ke tempat parkir sepeda. “Ayolah
Ki, sebagai teman, aku kasihan melihat kamu setiap selesai kuliah harus pake
sepeda ke tempat kerja part time-mu itu, teman macam apa aku yang
membiarkan temannya bersusah payah seperti itu?” ujar Bima bersedih. Niki
tertawa. “Apaan sih Bim, drama banget deh.” Bima ikut tertawa. “Ya maksudku,
sesekali naik mobilku gitu, biar kamu ga capek, sepeda bisa disimpan di
mobilku.” Tampaknya Bima tak menyerah untuk mengajak Niki.
“Next time deh Bim, aku pergi dulu ya.
Sampai besok!” ucap Niki bernada tegas lalu menaikki sepedanya dan pergi
meninggalkan Bima yang berdiri mematung di parkiran universitas.
Niki adalah seorang gadis muda berusia sembilan belas
tahun yang memiliki impian untuk membahagiakan ibunya. Ia rela bekerja sambil
berkuliah untuk mewujudkan impiannya itu. Hidup untuk sebagian orang adalah
perjuangan dan Niki adalah pejuang tangguh untuk hidupnya. Ia mengayuh
sepedanya menuju apotek tempat dia bekerja. Sore seperti ini adalah suasana
yang paling disukai Niki. Saat matahari tak bersinar terlalu terik dan angin
berhembus sejuk.
Ia menghirup udara dalam-dalam dan membuka kedua
tangannya membiarkan angin memainkan rambutnya. Rasanya lega dan menyenangkan.
Sepeda melewati sebuah jembatan. Niki berhenti sebentar untuk menatap garis
cakrawala. Ia menghela nafas, lelah sebetulnya setelah seharian belajar lalu
sorenya harus bekerja. Namun, Niki tetap tekuni itu. Niki tahu niat baiknya
untuk sang ibu akan menguatkannya.
Ia juga tahu pasti, Tuhan senang dengan hamba-Nya yang
bekerja keras dan tidak malas. Setelah menikmati beberapa saat garis cakrawala,
Niki melanjutkan mengayuh sepedanya hingga sampai di apotek tempatnya bekerja
paruh waktu.
Niki mengganti bajunya dengan seragam apotek. Mencuci
muka dan membersihkan tangan dan kakinya sebelum bertugas. Setelah selesai Niki
mulai melakukan operan shift dengan teman lawan shiftnya.
Ia mendengarkan laporan-laporan yang dilaporkan oleh lawan shiftnya.
Setelah itu ia lanjut merekap resep-resep yang masuk di pagi hari. Lalu
mengecek persediaan obat yang habis dan mencatat satu persatu obat yang stoknya
tinggal sedikit lagi. Biasanya stok yang tinggal sedikit akan dipesankan ke
pedagang besar farmasi dikeesokan harinya oleh lawan shiftnya.
Seorang pembeli datang untuk membeli obat. Niki
melayaninya dengan baik. Ia menjelaskan cara minum obat tersebut pada pembeli
juga efek sampingnya. Selain mementingkan kebersihan, Niki juga sangat teliti
dalam memberikan obat. Ia sangat memperhatikan sedetail mungkin, agar pasien
merasa nyaman.
Sebetulnya Niki ingin sekali menjadi seorang dokter,
tapi karena biaya tak memungkinkan, ia memilih jurusan ini. Meskipun sekarang
baru bisa bekerja di apotek kecil, Niki tetap menyimpan keinginannya untuk bisa
bekerja di perusahaan besar farmasi suatu hari nanti.
Hari sudah malam, Niki bersiap-siap untuk pulang.
Setelah menutup apotek, Niki menuntun sepedanya ke sebuah mesin anjungan tunai
mandiri yang tak jauh dari situ. Ia berdiri di depan mesin penuh uang itu.
Iseng-iseng Niki mengambil selembar struk ATM di atas mesin, struk bekas orang
sebelumnya yang mengambil uang. Ia melihat nilai saldonya pada struk tersebut.
Matanya pun melebar.
“Waaah, saldonya banyak banget!” seru Niki terkesima.
Ia pun berandai-andai. “Kalau saja jumlah uangku sebesar ini, aku bisa wujudkan
keinginan ibu dan pindah ke rumah kontrakan yang lebih bagus!” kata Niki. Ia
memandangi struk tersebut sampai pundaknya dicolek. Niki terkejut. “Masih lama
Mbak?” tanya seseorang yang berdiri di belakangnya. Niki nyengir, ia baru sadar
kalau di belakangnya sudah ada antrian orang.
“Eh, ga Mas, sudah beres kok,” kata Niki sedikit gugup
dan malu. Ia meletakkan struk tersebut lalu bergegas menuntun kembali sepedanya
pergi dari situ. Orang yang mencolek bahu Niki tadi melangkah maju ke mesin ATM
dan melihat struk yang diletakkan Niki tadi. “Wow, ga sangka cewek itu, pake
sepeda tapi saldonya banyak juga ya!” kagetnya.
Niki mengayuh kembali sepedanya menuju arah
pulang. Malam di kota besar masihlah ramai. Berbagai kendaraan masih memenuhi
jalan-jalan sehingga tidak membuat takut Niki saat pulang malam. Lampu-lampu
jalan berpadu padan dengan lampu-lampu gedung. Pendarannya berwarna-warni,
menyemarakkan aspal jalan. Niki menikmatinya. Ia memilih untuk tidak tenggelam
dalam keluh kesah akan lelah tapi memilih untuk menikmati proses perjuangan
yang dijalaninya.
Jarak antara apotek dan rumahnya tak terlalu jauh,
hingga tak lama, Niki telah sampai di rumahnya setelah melewati jalan-jalan
sempit. Ia menyimpan dan mengunci sepedanya di teras rumahnya yang sederhana di
perkampungan padat penduduk itu. Meski tampak sederhana tapi rumah itu bersih
dan rapi. “Assalamualaikum,” salam Niki saat membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam, Ki,” sambut ibu yang
sedang duduk di sofa lamanya di tengah ruangan, “Sudah makan? Kalau belum,
makan dulu sana. Tadi Ibu sudah bikin sayur sop kesukaanmu.” Niki mencium
tangan dan ibunya. “Bu, ‘kan Ibu masih sakit, jadi jangan capek-capek masak
dulu, aku gampang kok, bisa masak nasi goreng sendiri,” ucap Niki. Ibu
tersenyum. “Kalau kebanyakan diem malah makin sakit.” Niki tertawa. “Ya sudah,
aku mandi dulu Bu, baru nanti makan. Ibu sudah makan?” Ibu mengangguk.
Niki melangkah masuk ke dalam kamarnya. Di dalam
kamarnya, Niki mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya lalu menyimpan
sebagian uang itu di dalam lemari baju. Ia memejamkan matanya seakan
membayangkan uangnya berlipat ganda seperti jumlah saldo yang dilihatnya di
struk tadi. “Semoga hasil kerja kerasku ini bisa untuk mewujudkan keinginan
ibu,” gumam Niki.
“Ki, mau Ibu masakkan air panas untuk mandi?” tanya
ibu. "Enggak usah Bu, aku mandi pake air biasa saja,” sahut Niki lalu
berjalan keluar kamar. Tanpa disadari Niki, seorang pria bertubuh kurus tengah
mengintip dari balik jendela. Ia melihat saat Niki menyimpan uang di dalam
lemari itu.
“Banyak juga uangnya,” gumam pria kurus itu yang
ternyata Deni.
Malam itu Niki duduk bersimpuh di atas sajadah.
Ia memanjatkan doa untuk kesehatan ibunya, juga memohon agar rezekinya
dilancarkan, sehingga ia dapat mewujudkan keinginan ibunya.
"Ya Allah, harus kemana lagi aku cari uang. Aku
enggak mau hidup seperti ini terus. Bukannya aku tidak bersyukur, tapi bukan
seperti ini yang aku inginkan, berilah jalanmu untuk memberikan rezeki yang
lebih untuk kami. Agar aku bisa mengabulkan keinginan ibu," gumam Niki
dalam do'anya.
Haruskah aku pindah pekerjaan untuk mendapatkan gaji
yang lebih besar? Pasalnya gaji di apotek kecil tidak cukup untuk memenuhi
keinginan ibunya. Gajiku hanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan
membayar kontrakan tiap bulannya. Tapi saat ini sulit sekali untuk mencari
pekerjaan lain, apalagi perusahaan yang mau menerima mahasiswa yang bekerja
sambil kuliah. Niki bertanya-tanya sendiri dalam gelisah.
Terdengar suara langkah kaki di luar kamar. Niki
bangun dari sajadahnya dan keluar kamar. Ia melihat ibu sedang menuju ke
belakang. “Mau aku temani ke kamar mandi Bu?” tanya Niki. “Ga usah, Ibu bisa
sendiri kok,” senyum ibu. Niki kemudian duduk di teras rumah dan tak lama
terdengar ibunya datang menghampiri.
“Ada apa Ki, kamu tampak gelisah?”
Niki mengangguk, insting seorang ibu memang tajam,
“Bu, apa aku cuti kuliah aja dulu ya. Biar bisa fokus kerja dan cari uang yang
banyak?” tanya Niki. "Loh kenapa tiba-tiba mau berhenti kuliah? Bukannya
itu yang kamu mau? Masuk ke universitas itu susah loh. Apalagi kamu dapat
beasiswa,” jawab ibu.
“Bu, terkadang menjalani kerja dan kuliah
bareng-bareng itu capek. Dan aku takut malah ga bisa fokus di dua-duanya. Aku
takut nilai kuliahku anjlok Bu,” jelas Niki. Ibu memandangi Niki dengan kasih
sayang. “Ki, sejauh ini nilai kamu baik-baik saja, apa yang membuat kamu
khawatir? Ibu tahu kamu pasti lelah tapi Ibu juga yakin kamu pasti bisa membagi
waktu. Tapi semua itu kamu yang jalani, kalau kamu mau fokus kerja, silakan …
tapi apa kamu sudah pikirkan akan waktu yang terbuang dan harus kamu kejar lagi
nanti?”
Niki terdiam, nasehat bijak ibunya menyadarkan juga
memberikan semangat dan dukungan, membuatnya merasa lebih percaya diri dan
termotivasi untuk terus berjuang. “Ibu betul juga, baiklah, aku jalani dulu
saja dua-duanya ya Bu, Bismillah,” ucap Niki. Ibu mengangguk dan memeluk Niki.
"Ibu percaya kamu. Kamu pasti bisa melakukan yang terbaik." Niki
membalas memeluk ibunya dengan erat.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari kamar
Niki.
“Ada yang membuka pintu kamarku Bu,” seru Niki
terkejut. Ia dan Ibu bergegas masuk ke dalam rumah. Niki mendorong pintu
kamarnya lebar-lebar dan tampak Deni tengah berdiri di depan lemari bajunya!
Deni menatap Niki dengan seringai.
“Apa yang kamu lakukan di situ heh?” cetus Niki.
Deni nyengir dan tampak salah tingkah saat Niki dan
ibu menatap dirinya dari pintu kamar. “Kak! Kakak mau ngapain di kamar aku!?”
sentak Niki yang mencurigai gelagat kakaknya itu. “Aku? Aku ga ngapa-ngapain
kok, cuma numpang ngaca di lemari kamu ini,” kilah Deni lalu berjalan keluar
kamar. Niki melirik pada lemari bajunya yang masih tertutup rapat. Ia menghela
nafas lega lalu menutup pintu kamarnya.
“Emang ga boleh aku ikut ngaca di kamarmu? Pelit
banget sih,” ujar Deni lalu duduk di sofa lama depan televisi. “Malam-malam
ngaca memangnya kamu mau kemana Den?” tanya ibu dan Niki memerhatikannya. Deni
nyengir, “Ga kemana-mana Bu, iseng aja.” Niki membalikkan badannya. “Aku tidur
duluan Bu, besok ada kuliah pagi.” Ibu mengangguk dan duduk di sofa lamanya di
sebelah Deni. “Ibu ga tidur?” tanya Niki. Ibu menggeleng. “Nanti, belum ngantuk
kamu saja duluan.” Niki mengangguk dan membuka pintu kamarnya.
“Eh, Ki, bentar,” panggil Deni lalu menghampiri
adiknya itu. Niki berdecak, sepertinya ia sudah tahu apa yang akan dilakukan
kakaknya itu. “Ki, aku pinjem seratus dong,” bisik Deni. Niki memejamkan mata
sebentar dengan tangan mengepal gemas. Ia membuka matanya lagi lalu menatap
Deni. “Engga!” ucapnya tegas.
“Ya elah, cuma seratus doang, ntar juga aku ganti
kok, swear!” Deni menunjukkan dua jarinya. “Kak, ini bukan cuma
seratus doang, tapi ini sudah seratus yang ke berapa kali? Dan sampai sekarang
semua itu juga belum Kak ganti,” sebal Niki.
“Masa sih?” Deni berpura mengingat-ngingat. Niki
geleng-geleng lalu akan masuk kamar tapi Deni menghadangnya dan berkata, “Ok,
ok … mungkin aku lupa … tapi kali ini, plis, aku pinjem seratus, aku perlu
banget Ki … nanti aku ganti, aku lagi ada bisnis sama teman---“
“Stop! Setiap minjem duit pasti alasannya ada bisnis,
bisnis ikan lele lah, bisnis burung dara lah, bisnis macan tutul aja sekalian!”
potong Niki kesal. Deni tertawa. “Idemu boleh juga itu bisnis macan tutul,”
pikir-pikir Deni. “Udah ah aku mau tidur, awas!” Niki mendorong kakaknya agar
tak menghalangi pintu. “Ki ayolah plis, seratus aja plis,” mohon Deni tapi
pintu kamar telah ditutup.
“Den, kamu kenapa ga cari kerja aja sih?” tanya ibu
yang sedari tadi memerhatikan kedua anaknya itu. Deni berjalan lesu dan duduk
di sebelah ibunya. “Kamu ‘kan pernah sekolah di STM Mesin, kamu bisa melamar
kerja di bengkel bukan? Jadi kamu bisa punya uang sendiri dan ga menganggu uang
adikmu terus,” sambung ibu.
“Aku pengen bisnis Bu, hasilnya bisa gede, kalau kerja
di bengkel berapa sih gajinya Bu? Ibu mau itu bukan?” tunjuk Deni pada sebuah
brosur di atas meja. “Aku tahu Ibu mau itu, setiap hari Ibu selalu lihatin
brosur itu, kalau kerja di bengkel, kapan aku bisa berikan Ibu itu?” kata Deni
lagi. Ibu terkejut ternyata Deni memerhatikannya.
“Deni, Deni … niatmu bagus, tapi berbisnis itu tidak
semudah yang kamu duga, berapa kali kamu gagal dan ditipu temanmu sendiri?
Sebaiknya kamu cari kerja saja Den,” saran ibu. Deni hanya diam dan
menyandarkan tubuhnya di sofa.
Pagi hari setelah bersiap Niki keluar kamarnya dan
melihat kakaknya masih tertidur di sofa. Ia berdecak kesal pada dirinya sendiri
yang tidak tegaan. Ia lalu meletakkan selembar uang seratus ribuan di sebelah
kepala kakaknya yang masih tidur itu. Ibu yang tengah menyapu teras rumah
melihat itu lalu tersenyum. Niki melangkah keluar rumah dan mengambil
sepedanya. “Bu, aku pergi kuliah ya,” ucap Niki lalu mencium tangan ibunya.
“Ki, hati-hati di jalan ya,” kata ibu saat Niki
menaikki sepedanya. Niki mengangguk dan mengucapkan salam lalu sepeda pun
dikayuh melewati jalan-jalan sempit perkampungan saat matahari mulai meninggi.
Lalu menyusuri pinggir jalan raya yang telah ramai kendaraan dan orang-orang
yang akan berangkat kerja.
Niki kembali menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswi
dengan semangat baru setelah mendapat nasehat dari ibunya semalam. Ia
bersungguh-sungguh mengikuti kuliah. Tekadnya semakin kuat untuk bisa cepat
lulus. Kedua sahabatnya pun begitu. Mereka bertiga adalah sirkel teman-teman
positif yang saling menyemangati dalam hal kebaikan.
Setelah kuliah selesai, mereka bertiga lanjut belajar
di perpustakaan. Mereka bertiga duduk di meja yang sama, masing-masing membaca
buku dan mencatat informasi penting. Niki membaca buku tentang farmakologi,
sementara Keysha membaca buku tentang biokimia. Bima, yang sedang mempersiapkan
diri untuk ujian, membaca buku tentang anatomi.
Suasana perpustakaan yang tenang dan nyaman membuat
mereka bertiga dapat fokus pada pembelajaran. Mereka sesekali berbicara dan
berbagi informasi. "Eh, kalian tahu tidak bahwa universitas kita sedang
membuka program magang di perusahaan farmasi terkemuka?" tanya Bima. Niki
menggeleng. “Aku ga tahu. Kamu tahu Sha?”
Keysha mengangguk. “Bima betul Ki, tadi pagi aku juga
baru lihat pengumumannya di mading. Kayaknya kamu memenuhi syarat mereka deh
Ki.”
“Masa sih? Kok aku ketinggalan info ya?”
“Gimana enggak ketinggalan info, tiap pulang kuliah
langsung ke apotek. Pasti ketinggalan info lah,” tawa Keysha, “kamu coba aja
Ki. Siapa tahu kamu lolos.” Bima mengangguk mendukung. “Kalian ga ikut daftar?”
tanya Niki. Bima dan Keysha menggeleng berbarengan. “Kenapa?” tanya Niki lagi.
“Kita ga jago ngatur waktu kayak kamu Ki,” cengir Bima. Keysha mengangguk.
“Tepat sekali Bim.”
Niki berpikir dan menimbang-nimbang. “Udah ga usah
pake pikir-pikir, langsung daftar aja pasti kamu lolos, nilai kamu bagus dan
kamu juga sudah punya pengalaman keja di apotek,” kata Bima. Keysha dan Bima
terus mendukung Niki untuk mendaftar program magang tesebut. Mereka percaya
bahwa Niki memiliki potensi dan kemampuan yang cukup untuk lolos dalam seleksi.
Niki mengangguk. “Aku coba kalau gitu deh.” Keysha
mengepalkan tangannya, “Yeay aku yakin kamu pasti lolos Ki!” Bima juga bertepuk
tangan kecil karena ia tahu meeka sedang berada di dalam perpustakaan. Niki
merasa terharu dan berterima kasih atas dukungan teman-temannya itu. “Thanks
Gaes, udah dukung aku.” Niki merasa beruntung memiliki sirkel teman-teman yang
positif meski strata ekonomi dirinya dan kedua sahabatnya itu jauh berbeda.
Keysha dan Bima berasal dari keluarga berada sedang Niki berasal dari keluarga
sederhana tapi itu tidak membuat mereka berbeda. Persahabatan mereka malah
semakin erat saja.
“Sebaiknya daftar sekarang saja Ki, pendaftarannya
sudah mulai dibuka hari ini,” saran Keysha. “Oke,kalau gitu aku mau daftar dulu
ya,” ujar Niki sambil berdiri dari duduknya. “Ki, mau aku antar?” tanya Bima.
“Enggak usah Bim, aku bisa sendiri kok,” jawab Niki lalu pergi meninggalkan
mereka.
“Bima, Bima … kelihatan banget sih,” celetuk Keysha
sambil tertawa. “Kelihatan apa sih, Key?” tanya Bima. “Kamu suka ‘kan sama
Niki?” sahut Keysha santai. Bima terkejut. Ia tidak menyangka bahwa perasaannya
terhadap Niki akan terlihat oleh temannya. “Ah engga kok,” sangkal Bima
berusaha tak gugup.
Keysha tertawa. “Jangan bohong, Bima. Aku tahu kamu
suka sama Niki sejak lama tapi kamu ga berani untuk mengatakannya.” Bima bisa
merasakan wajahnya memerah. “Saking besarnya cinta kamu ke Niki, sampai kamu
engga bisa melihat kalau Niki sekarang lagi fokus sama hidupnya. Mana dia peka
sama perasaan kamu,” sambung Keysha.
“Aku ga bermaksud untuk mematahkan semangatmu Bim,
tapi aku tahu, Niki tengah memprioritaskan ibunya. Boro-boro memikirkan soal
cinta, ia sedang memikirkan banyak hal yang lebih penting dibanding cinta.”
“Apa itu?”
“Mewujudkan keinginan ibunya yang tengah sakit.”
“Jadi saranmu apa Key?”
Keysha memberikan saran yang tulus kepada Bima, agar
tidak terlalu berharap pada Niki yang saat ini memiliki prioritas lain selain
cinta dalam hidupnya. Bima mendengarkan saran Keysha. Ia memahami bahwa Niki
memiliki prioritas lain dan bahwa ia tidak boleh terlalu berharap, tapi, Bima
juga tidak bisa menyangkal perasaannya terhadap Niki.
“Karena itu aku ingin membantu Niki,” ucap Bima.
Keysha tersenyum dan menepuk bahu Bima. "Aku
tahu, Bim. Program magang itu juga salah satunya bukan? Aku hanya ingin kamu
tahu kenyataannya. Tapi, aku juga percaya bahwa kamu bisa menjadi teman yang
baik untuk Niki."
"Engga Key, suatu saat nanti kalau waktunya
tepat, aku akan menyatakan perasaanku, aku siap menunggu kapan pun itu,” kata
Bima. “Aku rispek sama pria yang memiliki keyakinan kuat Bim, aku harap suatu
hari nanti Niki akan menyadari peasaanmu itu,” balas Kesyha.
Bima mengangguk. Ia begitu yakin kalau suatu saat
nanti cintanya akan terbalaskan oleh Niki. Meskipun harus memakan waktu yang
lama Bima tidak peduli, ia akan menunggu di saat Niki benar-benar membutuhkan
cintanya.
Hari ini Niki sedang melakukan psikotes dan interview untuk
program magang. Semua calon pemagang sudah berkumpul di sebuah ruangan. Niki
bersemangat dan percaya diri, ia beharap bisa magang di perusahaan besar
farmasi ini. Ia tahu bahwa ini adalah kesempatan besar untuknya dan ia akan
memanfaatkannya sebaik mungkin.
Dengan banyaknya calon pemagang yang ikut dalam
program ini, Niki tahu bahwa persaingan akan sangat ketat, tapi, ia tidak ingin
menyerah. Ia ingin membuktikan bahwa ia memiliki kemampuan dan potensi yang
cukup untuk menjadi bagian dari perusahaan farmasi besar. Impian Niki untuk
mewujudkan keinginan ibunya menjadi motivasi yang kuat bagi dirinya.
Saat sesi interview, dengan lugas
Niki bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara dengan akurat dan lengkap.
“Obat apa saja yang digunakan untuk penderita diabetes
melitus?” tanya pewawancara di salah satu pertanyaannya
“Untuk penderita diabetes melitus, obat yang digunakan
biasanya adalah obat hipoglikemik oral, seperti metformin,
sulfonylurea, dan meglitinide,” jawab Niki dengan percaya diri.
“Selain itu, juga dapat digunakan obat insulin, baik itu insulin yang diberikan
secara subkutan maupun insulin yang diberikan secara intravena,”
lanjut Niki membuat pewawancara mengangguk-ngangguk.
Niki juga menambahkan bahwa pengobatan diabetes
melitus juga harus disertai dengan perubahan gaya hidup, seperti diet seimbang,
olahraga teratur, dan pengawasan gula darah secara teratur. Pewawancara
terlihat puas dengan jawaban Niki dan memberikan senyum. “Bagus, kamu memiliki
pengetahuan yang baik tentang pengobatan diabetes melitus,” kata pewawancara.
Kemudian pertanyaan-pertanyaan berikutnya dilayangkan
dan Niki selalu menjawabnya dengan akurat juga lengkap, tampak sekali kalau
Niki telah siap mengikuti program ini.
“Baiklah wawancara hari ini selesai. Semoga kamu
berhasil lolos, besok akan kami kabari siapa saja yang lolos dan akan masuk ke
dalam tim farmasi kami. Di sini kami fokus dalam pengembangan obat-obatan baru.
Bukan hanya obat diabetes melitus saja, obat-obatan penyakit baru juga kami
sedang kembangkan formulasinya," jelas pewawancara.
Niki merasa lega karena wawancara telah selesai. Ia
juga merasa sangat tertarik dengan penjelasan pewawancara tentang fokus
perusahaan farmasi tersebut dalam pengembangan obat-obatan baru. “Terima kasih
banyak, saya sangat senang bisa mengikuti wawancara ini. Saya sangat tertarik
dengan pengembangan obat-obatan baru dan saya percaya bahwa saya memiliki
kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk menjadi bagian dari tim farmasi
Anda," ucap Niki dengan percaya diri.
Pewawancara tersenyum dan mengangguk. "Baiklah,
semoga kamu berhasil lolos dan menjadi bagian dari tim kami."
Niki keluar dari ruangan wawancara dengan perasaan
senang. Ia merasa optimis kalau sesi psikotes dan wawancaranya berjalan dengan
baik tapi ia juga merasa cemas tentang hasil seleksi, tapi Niki menyerahkan
hasilnya semua pada Tuhan karena sebagai manusia ia sudah berikhtiar melakukan
yang terbaik.
“Gimana psikotes dan wawancaranya? Kamu bisa ‘kan?”
tanya Keysha yang telah menunggu bersama Bima di luar ruangan. Niki mengangguk.
“Insyaallah, psikotes dan wawancaranya tadi berjalan lancar, aku berharap bisa
lolos, tapi aku tidak ingin terlalu berharap juga.”
“Tenang Ki, kamu pasti lolos," kata Bima
meyakinkan, “kamu memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk menjadi
bagian dari program magang mereka.”
“Kamu pantas masuk program magang ini, Ki. Kamu telah
bekerja keras dan memiliki dedikasi yang tinggi dalam bidang farmasi,” tambah
Keysha.
“Makasih Gaes udah kasih support terus,
kalian emang bestie aku banget deh,” senyum Niki lalu merangkul Kesyha. “Gue
ga?” tanya Bima membuka kedua tangannya. “Bukan muhrim!” cibir Kesyha. Mereka
bertiga tertawa.
Telepon genggam Niki berbunyi. Ia melihat nomor
telepon yang masuk. Belum sempat mengucap salam, suara Deni tedengar di ujung
telepon sana. “Kamu ditelponin ga masuk-masuk dari tadi, lagi ngapain sih!”
cerocos Deni kesal. “Aku ada interview Kak, hape dimatiin, memangnya kenapa?
Pinjem seratus lagi?” sindir Niki.
“Bukan! Ibu masuk rumah sakit!” teriak Deni.
“Ya Allah!” kaget Niki. Keysha dan Bima saling pandang
lalu menatap Niki. “Ada apa Ki?” tanya Bima. “Ibuku masuk rumah sakit, aku
harus segera kesana,” kata Niki menyimpan telepon genggamnya dan bergegas.
“Kali ini, kamu naik mobilku Ki, simpan sepeda di sini saja, besok bisa aku
ambilin sembari ke kampus, aman kok,” kata Bima. Niki menggeleng. “Ga usah Bim,
aku---“
“Aku memaksa dan ini urgent! Ayo cepat!”
potong Bima. “Bima betul Ki, kita ikut sama Bima saja,” saran Keysha. Niki pun
mengangguk. Mereka bertiga dengan cepat masuk ke dalam mobil dan melesat menuju
rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Niki menelepon Deni. “Di
ruangan mana Kak?” tanyanya. “Di IGD Ki,” jawab Deni. Hati Niki semakin tak
karuan mendengar itu. Ia khawatir akan ibunya. “Memang ibu sakit apa sih Ki?”
tanya Bima sembari mengikuti Niki yang berjalan cepat di lorong rumah sakit.
“Ibu punya sakit diabet mellitus dan kalau nge-drop kadang suka pingsan,” jawab
Niki.
Mereka bertiga sampai di ruang IGD. Niki mencari-cari
ibunya tapi yang ditemukan malah kakaknya yang terbaring di ranjang rumah
sakit. “Loh ibu mana?” bingung Niki. Deni nyengir. “Tuh ibu,” tunjuknya pada
ibu yang datang setelah mengurus pendaftaran pasien. “Loh ini gimana sih?”
bingung Niki begitu juga Bima dan Keysha.
“Ki, sudah selesai tes dan wawancaranya? Gimana?”
tanya ibu. “Bu, kata Kak Deni, Ibu masuk rumah sakit? Ibu sakit?” tanya balik
Niki yang masih bingung. “Ibu sehat-sehat kok, itu kakakmu yang masuk IGD, tadi
digebukkin orang, kamu ga lihat wajahnya dia?” jawab ibu.
Dengan cepat Niki menyadari kalau Deni telah
membohonginya, ia menoleh marah pada Deni. Deni cengar-cengir melihat Niki
melotot. “Tapi aku ‘kan bener Ki, Ibu masuk ke rumah sakit buat ngurusin aku di
IGD hehehe,” kilah Deni. “Keterlaluan! Bener-bener kamu itu keterlaluan Kak!
Kamu ga tahu sepanjang jalan aku tegang dan cemas takut ibu kenapa-kenapa! Ga
tahunya ini akal-akalan kamu doang! Buat apa sih?!” semprot Niki.
Bima dan Keysha geleng-geleng.
Deni menempelkan telunjuknya di bibirnya yang terluka.
“Psst, pelan-pelan, ini di IGD,” ucapnya. “Jadi kamu telpon adikmu dan bilang
kalau Ibu masuk rumah sakit, ya ampun,” kaget ibu. “Masih ga berubah ini
kakaknya Niki,” bisik Keysha pada Bima. Deni mengangguk. “Dosa kamu Kak, pake
bilang ibu sakit! Hiiii!” kesal Niki sembari menekan pipi Deni yang bengkak.
“Aduuuh! Sori-sori Ki, aku terpaksa, supaya kamu
kesini dan bayarin rumah sakit, soalnya ibu sama aku lagi ga pegang uang, kalau
kamu tahu aku yang di rumah sakit, kamu pasti ga mau kesini,” jelas Deni. Niki
mendengus kesal.
“Siapa yang ngegebukkin Kak Deni? Laporin polisi aja,”
kata Bima. Deni menggeleng. “Ga, ga, jangan libatin polisi, biasa ini mah, soal
modal bisnis yang macet.” Niki dan ibu geleng-geleng lagi. “Si Biang Kerok ini
ga harus rawat inap ‘kan Bu?” tanya Niki kesal. “Ga, dia sudah boleh pulang
kok, kalau harus dirawat inap biar dia suruh bayar sendiri saja,” jawab ibu.
“Ih Ibu kok tega sih,” rajuk Deni sembari memegangi pipinya.
Niki mendelik pada Deni lalu melangkah keluar ruangan.
Bima menyusulnya. “Ki, biar aku bantu biaya rumah sakitnya ya,” kata Bima.
“Jangan Bim, cuma tindak medis ringan kayaknya ga mahal,” sahut Niki. Bima tak
bisa memaksa, ia hanya mengangguk, karena Niki sudah berjalan cepat
meninggalkannya menuju kassa rumah sakit.
Keesokan harinya, Niki mendapatkan pengumuman
hasil seleksi untuk program magang. Niki sangat gembira ketika mendengar
pengumuman hasil seleksi. Ia tidak percaya bahwa ia telah lolos dan diterima
sebagai peserta program magang di PT. Gemilang Farma Laboratories, sebuah
perusahaan farmasi besar di negeri ini, dengan nilai psikotes dan interview terbaik.
“Alhamdulillah, aku tidak percaya!” seru Niki dengan
suara yang bergetar. Bima dan Keysha juga sangat gembira ketika mendengar kabar
tersebut. “Selamat, Ki! Kita bangga sama kamu!" ucap Bima dan Keysha
bersamaan. Niki terharu dengan dukungan dan semangat yang diberikan oleh kedua
teman baiknya itu. Ia merasa bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat dengan
mengikuti program magang ini.
“Berkat do'a ibu, tujuannya juga untuk mewujudkan
impian ibu. Semoga saja setelah ini jalannya semakin terbuka lebar ya,” ucap
Niki penuh syukur. “Aamiin,” ucap Keysha dan Bima serempak. Dalam hati, Niki
yakin, selangkah demi selangkah ia semakin dekat untuk mewujudkan keinginan
ibunya.
“Cepat kabari ibumu, ibu kamu pasti senang mendapat
kabar gembira ini,” ucap Keysha yang sangat senang melihat sahabatnya berhasil
di program magang tersebut. Niki menelepon ibunya dan mengabari kabar tersebut.
Terdengar suara ibu yang mengucap syukur dan bahagia. “Sabar ya Bu, selangkah
demi selangkah, aku akan wujudkan keinginan Ibu,” ucap Niki lalu menutup
teleponnya setelah mengucapkan salam.
“Ki, karena kamu lolos, aku traktir kamu makan
sepuasnya!” seru Bima. “Aku yang lolos masa kamu yang traktir sih? Nanti deh
kalau aku gajian pertama aku traktir kalian,” geleng Niki merasa tidak enak.
“Ya udah itu nanti aja, anggap aja traktir sekarang itu sebagai hadiah dari
sahabat yang ikut seneng karena temannya berhasil lolos,” ucap Bima.
“Iya Ki, mumpung si Bima lagi mood nraktir tuh, yuk!
Laper nih, kamu mau makan di mana?" tanya Keysha. “Di mana aja deh, asal
jangan yang mahal-mahal. Kasian nanti Bima bayarnya, tahu sendiri aku lagi
doyan makan,” cengir Niki. “Santai aja, makan aja yang kenyang, nanti aku yang
bayar,” senyum Bima, ia ingin sekali membuat Niki bahagia.
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk makan bersama
di sebuah warung Padang. Mereka makah dengan lahap sambil tertawa. Niki sangat
bahagia karena dapat berbagi kebahagiaan bersama teman-temannya. Selesai makan,
Bima pamit pulang duluan dan tinggallah Niki dan Keysha berdua
“Ki, apa kamu ngga sadar?” celetuk Keysha.
“Sadar apa?”
“Kalau Bima suka sama kamu,” ungkap Keysha.
Niki tersenyum. “Aku tahu kok Key, sekentara begitu
masa aku ga bisa lihat?” Keysha tertawa. “Aku kira kamu ngga tahu, terus
gimana?” Niki menghela nafas menyeruput es teh manisnya. “Ngga gimana-gimana
Key. Bima itu berhak mendapatkan yang lebih dari aku. Fokusku bukan kesana. Aku
hanya perempuan yang berambisi mewujudkan impian ibunya. Dia akan capek kalau
sama aku,” jelas Niki.
Keysha mengangguk-ngangguk. “Gitu ya. Aku sih berharap
yang terbaik untuk kalian berdua eh tapi … kalau setelah impian ibumu terwujud,
apa kamu mau mempertimbangkan perasaan Bima itu?”
Niki mengangkat kedua bahunya. “Aku belum tahu, gimana
nanti aja deh Key, saat ini aku belum kepikiran kesana.” Setelah itu tidak ada
percakapan lagi di antara mereka berdua, tidak lama mereka juga memutuskan
untuk pulang. Niki juga sudah tidak sabar untuk mengabari ibunya secara
langsung, kalau dirinya akan mulai magang di perusahaan farmasi besar.
Sesampainya di rumah, Niki langsung mencari ibunya.Ia
mencari ibu di kamarnya, tapi tidak ada. Ia juga coba ke dapur dan kamar mandi,
tapi ibunya tidak ada. “Kak, ibu kemana?” tanya Niki pada kakaknya yang sedang
meringkuk di atas sofa. “Ga biasanya ibu tidak ada di rumah,” lanjut Niki. Deni
masih meringkuk tak menjawab.
Niki mencolek bahu kakaknya. “Hih! Kak, kemana ibu?
Kok diem aja sih?!” tanya Niki mulai kesal karena tidak ditanggapi. “Ibu
pingsan, tadi sama Pak RT dan tetangga ibu dibawa ke rumah sakit,” jawab Deni
singkat. “Astaghfirullah! Kak kenapa enggak ngabarin sih. Terus kenapa Kakak di
sini? Harusnya Kakak yang nemenin ibu di rumah sakit!” kesal Niki.
“Kalau aku ngabarin kamu pasti kamu ga percaya, trus
aku juga tadi mau nemenin ibu, tapi badanku panas dingin gara-gara bengkak nih,
jadi sama Pak RT disuruh tunggu di rumah aja,” jelas Deni. Niki berdecak kesal.
“Makanya jangan cari masalah rasain!” ucapnya lalu beranjak keluar rumah.
“Eh Ki, sebentar,” panggil Deni. Niki menoleh. “Apa?”
Deni menatap Niki dengan tatapan memelas. “Pinjem seratus ada?” mohonnya.
Seketika wajah Niki menjadi merah. Ia mengangkat tangannya seakan ingin menekan
pipi kakaknya yang bengkak. Deni dengan cepat menutupi wajahnya dengan bantal.
“Dasar gila! Ga ada!” sentak Niki lalu keluar rumah dengan menutup pintu dengan
keras. “Orang pelit ga masuk surga loh,” teriak Deni lalu meringkuk lagi
sembari mengaduh karena demam.
Niki yang mendengar ucapan itu hanya mencibir kesal,
ia menaikki sepedanya lagi lalu menuju rumah sakit. Berbagai macam pikiran
mulai masuk ke otak Niki. Ia sangat takut terjadi hal buruk yang menimpa
ibunya. Padahal baru saja tadi pagi Niki mendapat kabar baik tentang dirinya
yang diterima di PT Gemilang Farma Laboratories. Sekarang ia malah mendapat
kabar buruk tentang ibunya. Hidup memang seperti dua mata koin yang berlawanan.
Semoga ibu tidak apa-apa, batin Niki
Sesampainya di rumah sakit, Niki langsung menemui
dokter yang menangani ibunya. “Apa yang terjadi sama ibu, Dok?” tanya Niki
panik. Dokter tersenyum lalu menjelaskan, “Ibumu kondisinya drop sekali ini.
Gula darahnya juga sangat rendah, tadi saat dibawa kesini dalam kondisi tak
sadarkan diri tapi sekarang ibu sudah siuman, melihat kondisinya, lebih baik
ibu mendapatkan perawatan di rumah sakit dulu. Mungkin harus rawat inap dua
sampai tiga hari, sampai kondisinya stabil lagi.”
Niki merasa sangat lega mendengar itu. “Tenang, tidak
ada yang gawat, dalam dua tiga hari ibu bisa pulang,” kata dokter lalu berlalu.
Niki mengucap syukur lalu masuk ke dalam kamar. Ibu tampak lemas di atas
ranjang rumah sakit. Niki memeluk ibunya. “Apa kata dokter?” tanya ibu. “Semua
akan baik-baik saja Bu, selama Ibu istirahat dan dirawat di sini, dua sampai
tiga hari,” jawab Niki. Ibu menghela nafas.
“Kita kabur saja yuk,” bisik ibu.
“Hah? Kabur?” kaget Niki.
“Iya kabur, rawat inap ‘kan mahal,” bisik ibu lagi.
Niki tertawa. “Ibu ini ada-ada aja, ‘kan sudah dibayar sama BPJS.” Ibu
menggeleng. “Tadi Pak RT bilang, kartu BPJS Ibu ditolak katanya belum bayar
iuran tiga bulan.” Niki terpekik, “Apa?!” Ibu mengangguk. “Aku selalu kasih
setiap bulannya buat bayar iuran loh Bu dari gajiku di apotek,” kaget Niki.
“Iya Ibu tahu,” angguk ibu. “Trus kenapa bisa
tertunggak?” heran Niki. “Tapi kamu jangan marah ya, biasanya Ibu suruh Deni
untuk bayarin iurannya,” ungkap ibu. Niki menghela nafas kesal, ia jadi tahu
kenapa uang itu tidak dibayarkan. “Si biang kerok satu itu memang menyebalkan!
Bukannya buat bayar iuran BPJS, duitnya malah diambil!” geram Niki.
“Bukan diambil Ki, kakakmu itu sih ngomong kalau
duitnya dia pake, harusnya Ibu ngomong sama kamu, tapi Ibu ga mau kalian
berantem,” kilah ibu. “Bu, dia itu keterlaluan, selalu saja jadi beban
keluarga!” sebal Niki. “Ki, sabar … kakakmu itu masih menganggur, dia juga
sedang berusaha cari kerja … kita maklumin saja dulu,” kata ibu.
“Apa? Maklumin?! Ibu nih ngebelain Kak Deni melulu,
dia itu pengangguran, ngabisin duit kita terus Bu, sampai kapan Ibu mau
maklumin penggangguran ga guna kayak dia?” cetus Niki. “Hey Ki, dia itu
kakakmu, ga boleh kamu bicara seperti itu,” geleng ibu. “Bu, kalau dia kakakku,
seharusnya dia yang mengayomi kita, dia yang mengurus kita!” balas Niki. “Ya,
dia memang kadang keterlaluan tapi dia juga bagian dari keluarga kita Ki,” kata
ibu sabar. Niki mendengus sebal. “Bagian dari keluarga yang merepotkan,” dumel
Niki.
“Sudahlah Ki, ga enak ngomongin ini, ini di rumah
sakit … jadi gimana tadi kamu sudah lolos di program magang itu ‘kan?” Ibu
mencoba mengalihkan topik pembicaraan untuk meredakan emosi Niki. Niki
mengangguk, ia meredakan amarahnya untuk membuat suasana lebih nyaman terlebih
ia mengingat ibunya baru saja siuman.
“Iya Bu, katanya di program ini, kita digaji dan
mendapatkan tunjangan lainnya meski ga sama seperti pegawai mereka, tapi yang
jelas gajinya lebih gede dari di apotek Bu,” jelas Niki. “Alhamdulillah, tapi
apakah kamu bisa diterima bekerja di sana nantinya?” tanya ibu. “Aku belum tahu
info itu Bu, tapi biasanya kalau anak magang itu bagus, perusahaannya suka
nawarin kesempatan bekerja di sana,” jawab Niki.
“Semoga saja ya Ki kamu diterima bekerja di sana,”
kata ibu sambil memeluk buah hatinya itu. “Aamiin Bu, itu impianku untuk
bekerja di perusahaan farmasi sebesar itu,” ujar Niki. Ibu mengangguk. “Aku
janji, aku akan mewujudkan impian Ibu dan bapak ya,” bisik Niki. “Jangan
menjadi beban pikiranmu itu Ki, yang penting kamu bekerja yang baik dan kuliah
yang rajin, karena Ibu dan bapak kepengen lihat kamu diwisuda,” ucap ibu.
“Iya Bu,” angguk Niki yang lalu menenggelamkan
kepalanya di dalam pelukan ibunya. Semua lelah terasa lenyap saat kedua tangan
ibu memeluk. Semua gelisah berganti tenang saat kedua tangan ibu menghangatkan
tubuh. Niki memejamkan matanya untuk sesaat.
Hari pertama Niki bekerja magang di PT. Gemilang Farma
Laboratories, diterima oleh supervisor magang yang ramah yang lalu menjelaskan
tugas-tugas yang harus diselesaikannya selama magang. Niki ingin membuktikan
bahwa ia memiliki kemampuan dan potensi yang baik karena itu ia bekerja keras
serta fokus pada tugas-tugas yang diberikan. Bahkan ia diajak bergabung pada
sebuah tim yang sedang mengembangkan sebuah proyek untuk obat diabetes. Di
ruang kerja lab, Niki bertemu dengan tim farmasi yang terdiri dari beberapa
orang yang sangat berpengalaman. Mereka semua menyambut Niki dengan ramah dan
bersahabat.
“Selamat datang, MaNiki Ayu Putri!" sambut Dokter
Rina, yang merupakan kepala tim. Niki mengangguk dan tersenyum ramah. “Kami
sangat senang memiliki kamu, anak muda, sebagai bagian dari tim kami. Saya
dengar kamu sangat paham soal diabetes,” lanjut Dokter Rina. “Karena mengurus
ibu yang punya sakit diabet dan bekerja di apotek membuat saya tahu soal
diabetes Bu,” jawab Niki dengan rendah hati.
“Bagus, lalu apa yang kamu ketahui tentang proyek
pengembangan obat diabetes di farmasi kita ini?” tanya Dokter Rina. “Saya hanya
membaca sedikit jadi sebenarnya saya belum terlalu banyak tahu, Bu,” jawab Niki
dengan jujur, “tapi saya sangat ingin belajar dan membantu dalam proyek ini.”
“Baiklah, kita akan menjelaskan lebih lanjut tentang
proyek ini,” kata Dokter Rina, “kami sedang mengembangkan obat baru yang dapat
mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes. Obat ini menggunakan bahan
aktif yang sangat efektif dan aman.”
Niki mendengarkan serta memerhatikan penjelasan Dokter
Rina dengan seksama dan penuh antusias. “Kita akan memberikan tugas kepada kamu
untuk bekerja sama dengan tim kami dalam melakukan penelitian dan pengujian
obat ini,” kata Dokter Rina.
Niki sangat bersemangat. Ia merasa bahwa ini adalah
kesempatan yang sangat baik untuk belajar dan membantu dalam pengembangan obat
yang sangat penting. Selain bisa membantu mengembangkan obat untuk penyakit
ibunya, Niki juga mendapat ilmu yang sangat berharga.
Setelah mendapatkan penjelasan, tim tersebut mulai
bekerja. Niki mulai mencampurkan chemical yang telah
diformulasikan oleh tim farmasi. Niki mengikuti setiap langkah prosedur yang
tertulis di dalam jurnal. Dengan hati-hati mereka bersama-sama saling membantu
menganalisis setiap zat dan formulasi yang dicampurkan.
Waktu terus berjalan tidak terasa jam kerja pun
berakhir. “Sampai bertemu besok Niki, saya suka dengan semangatmu!” senyum
Dokter Rina saat mereka bertemu di luar gedung farmasi, saat Niki tengah
menuntun sepedanya. Niki tertawa. “Terima kasih Bu, sampai ketemu besok!” balas
Niki yang lalu mengayuh sepedanya bergegas ke rumah sakit.
Sesampainya di ruang rawat inap hari telah malam, ibu
tampak sedang terlelap tidur. Niki perlahan meletakkan tasnya lalu berjalan
keluar ruang lagi tak ingin mengganggu ibunya. Ia duduk di depan pintu kamar.
Pintu kamar yang setengah terbuka membuat Niki bisa melihat ibunya.
“Itu ibumu?” tanya seorang pria tengah baya berambut
putih dan berjanggut putih sambil duduk di sebelah Niki. Niki menatap pria itu.
“Ia itu ibu saya,” angguk Niki, “Bapak siapa?” Pria itu tersenyum. “Saya Hilal.”
Niki memerhatikan pria itu. “Bapak kesini sedang menjenguk pasein atau Bapak
sedang berobat?” tanya Niki. “Saya kesini bersama anak saya dan sengaja kesini
untuk menjenguk seorang teman,” jawabnya sembari melihat pada ibu. Niki
manggut-manggut. “Ah baiklah, saya harus pergi, saya malah jadi mengganggu,
selamat malam Niki, kamu memang anak yang baik,” ucap Hilal lalu bangun dari
duduknya dan melangkah pergi.
Niki mengerutkan keningnya. Kok dia tahu nama
saya ya? Batin Niki. Di dalam kamar tampak ibu terbangun. Niki
bergegas masuk kembali ke dalam ruangan lalu menutup pintunya. Ibu tersenyum
melihat putri kesayangannya itu. “Ki, tadi siang kedua temanmu, Bima dan Keysha
datang,” ucap ibu. “Oh mereka nengok Ibu kesini?” tanya Niki sambil mencium
tangan ibu. Ibu mengangguk dan menunjuk pada buah-buahan yang dibawa kedua
temannya itu. Niki tersenyum.
“Gimana hari pertama magangmu Ki? Cerita dong sama
Ibu,” kata ibu. “Sungguh menyenangkan Bu,” jawab Niki yang lalu menceritakan
semuanya pada ibu. Setelah bercerita soal magangnya, Niki teringat pada pria
tadi. “Bu kenal pria bernama Hilal ga? Dia seumuran bapak, rambutnya putih,
jenggotnya juga putih, Ibu tahu?” tanya Niki. Ibu mengingat-ngingat lalu
menggeleng. “Tadi dia memerhatikan Ibu dan bilang kesini untuk menjenguk teman,
barangkali dia teman Ibu,” kata Niki. “Ibu kok ga inget ya punya teman pria berambut
putih, berjenggot putih dan bernama Hilal?” geleng ibu.
“Ah ga usah diinget-inget deh Bu malah pusing,” cengir
Niki. Ibu pun tertawa. “Bu, tadi Kak Deni kesini ga?” tanya Niki. “Iya, dia
menemani Ibu seharian, lalu pulang tadi sehabis Magrib sebelum kamu datang,”
jawab ibu. “Baguslah, sekali-kali berguna gitu,” kata Niki. “Hush!” sahut ibu.
Niki nyengir.
“Beneran sudah terkumpul uangnya?” tanya Keysha saat
dirinya, Niki dan Bima sedang melakukan video call bersama.
“Alhamdulillah sudah Sha, tinggal ngasih kejutannya buat ibu nih,” jawab Niki.
“Ga kerasa ya, sudah berbulan-bulan kamu magang di sana, kayak baru kemarin,”
kata Kesyha. “Iya Sha, ga berasa, ga sangka juga hasil ngumpulin dari gaji di
apotek dan gaji magang akhirnya bisa untuk mewujudkan keinginan ibu,” cengir
Niki. “Ada yang bisa aku bantu ga Ki?” tanya Bima.
“Untuk saat ini bantuan kalian sudah cukup banyak,
kalian sudah membantu aku menyiapkan keperluan lain-lainnya sejak seminggu
lalu, aku pikir dari sini aku bisa handle sendiri Bim,” senyum
Niki. Bima mengangguk-ngangguk, meski sedikit kecewa karena ia selalu ingin
membahagiakan dan membantu Niki “Baiklah, aku mau kasih kejutan dulu buat ibu
ya,” kata Niki. Keysha dan Bima mengangguk. “Besok ceritain gimana ekspresi ibu
kamu ya Ki,” kata Keysha tak sabar. Niki mengangguk lalu mengucapkan salam dan
menutup teleponnya.
Niki mengeluarkan sebuah koper besar dari samping
lemari baju yang selama ini ditutupinya dengan seprai. Ia kemudian meletakkan
koper tersebut di atas tempat tidur. “Bu, Ibu,” panggil Niki dari dalam kamar.
“Apa Ki?” sahut ibu dari luar kamar. “Sini deh Bu,” panggil Niki lagi.
Terdengar suara langkah ibu lalu muncul di pintu kamar. “Ada apa Ki?” tanya
ibu.
Wajah Niki terlihat sumringah saat menunjukkan koper
tersebut. “Ini buat Ibu,” kata Niki. Ibu mengerutkan kening. “Buat Ibu?” Niki
mengangguk-ngangguk dengan senyum yang terus menempel di wajahnya. Ibu
menghampiri koper besar tersebut. Ia memandanginya. “Ayo Bu, silakan dibuka,”
kata Niki. Ibu duduk di tempat tidur di sebelah koper tersebut lalu mulai
membuka kopernya. Setelah koper dibuka, terlihatlah isinya. Mata ibu terbelalak
tak percaya. “Ini apa Ki?” tanya ibu masih tak mengerti meski hatinya sudah menduga
apa maksudnya.
Niki menunjukkan brosur yang selalu dilihat ibunya
saat duduk di depan televisi. Brosur yang selalu dipegang ibunya bahkan hingga
tertidur. “Impian Ibu akan terwujud seperti di brosur ini!” cetus Niki gembira.
“Masya Allah, Ki!” seru ibu terkejut bahagia dan terharu. Ia segera memeluk
putrinya itu. Air mata ibu jatuh menetes begitu pun air mata Niki.
“Ini, Ibu tidak mimpi ‘kan?” tanya Ibu tak percaya.
Niki menggeleng. “Ga dong Bu, Ibu ga mimpi, ini kenyataan, Niki sudah siapkan
uangnya juga, Niki sudah kumpulkan uangnya buat Ibu, Ibu bisa lihat sendiri.”
Ibu mengusap air matanya di pipi. “Ya Allah Ki, putri Ibu, kesayangan Ibu, kamu
selama ini menabung untuk mewujudkan impian Ibu ini?”
Niki mengangguk lalu bergegas membuka lemari bajunya.
Ibu masih terus menangis. Niki mengangkat tumpukkan-tumpukkan bajunya untuk
mengambil amplop-amplop yang disembunyikannya itu. Ia merasa aneh karena
amplop-amplop itu terasa ringan. Perasaannya tak enak. Ia segera membuka
amplop-amplop itu. Perasaannya pun benar.
Amplop-amplop itu kosong!
Berpuluh-puluh amplop itu kosong!
Ya Allah! Ga mungkin! Kemarin amplop-amplop ini masih
berisikan gepokan-gepokan uang yang disishkannya setiap hari selama
bertahun-tahun! Batin Niki. Ia menjadi panik dan membuka semua amplop itu
berulang kali untuk memastikan, tapi tetap saja amplop-amplop itu kosong.
“Tidak, tidak,” geleng Niki cepat.
“Ki, ada apa? Kamu tidak apa-apa?” tanya ibu yang
cemas melihat Niki membuka tutup amplop-amplop berulang kali lalu mulai
membongkar lemarinya. Niki mengeluarkan semua baju-bajunya. “Seharusnya ada di
sini! Kenapa tidak ada? Ya Allah!” Niki semakin panik. “Ki, kamu nyari apa sih?
Ibu kok jadi takut melihat kamu ngacak-ngacak lemari bajumu seperti itu?” ujar
ibu.
“Bu, uangku ga adaa!!” jerit Niki.
“Apa? Uang? Kamu membongkar lemari dan amplop ini
ternyata nyari uang?” tanya ibu. Niki mengangguk dan air matanya mulai jatuh.
“Uang buat apa Ki?” tanya ibu lagi. “Uang yang aku kumpulkan buat Ibu berangkat
umrah,” jawab Niki lalu menangis sejadinya. “Astaghfirullah Ki, kamu nyimpen
uang sebanyak itu di dalam amplop dan lemari, kenapa ga simpen di bank saja?”
kaget ibu.
Niki terus menangis kini ditambah bergumpal dengan
rasa penyesalan, ibu betul kenapa ia tidak menyimpan uangnya di bank saja. Niki
duduk lemas di lantai sambil terus menangis di antara amplop-amplop putih yang
berserakan. “Kalau belum ada uangnya ga apa-apa kok Ki, kamu sudah membelikan
Ibu perlengkapan untuk umrah saja Ibu sudah senang,” senyum ibu yang ikut duduk
di sebelah Niki untuk menghiburnya.
Tangisan Niki semakin kencang, “Wuaaa … sekarang Ibu
ga percaya kalau aku sudah ngumpulin uangnya … aku ga bohong Bu, uangnya ada,
aku ga bohong Bu ….”
“Iya Ki, Ibu percaya kok kamu sudah mengumpulkan
uangnya,” ucap ibu mengusap-ngusap bahu Niki mencoba menenangkan tapi Niki
masih terus menangis, “tapi siapa ya yang mengambil uangmu itu?”
Niki mengusap mata dan hidungnya yang basah air mata.
“Aku tahu siapa yang mengambilnya Bu!” tukas Niki lalu bangun dari duduknya
dengan masih terus sesunggukkan. “Eh kamu mau kemana Ki?” bingung ibu yang
menyusul Niki keluar kamar.
“Biang keroook!” teriak Niki marah.
Niki keluar kamar dengan wajah merah, tangisannya
telah berubah menjadi bensin yang menyalakan api kemarahan dalam dadanya.
Matanya tajam membara. Tangannya mengepal gemetar menahan ledakan kesabaran
yang telah habis. Niki seperti bom waktu berjalan yang siap meledak bila
kabelnya salah potong atau waktunya habis.
“Biang kerook! Di mana kamu?!” teriak Niki tak sabar.
“Ki sabar Ki,” bujuk ibu. “Engga! Aku udah ga ada sabar-sabarnya lagi!
Kesabaranku sudah habis Bu! Aku sudah muak dengan kelakuannya!” seru Niki. “Iya
tapi kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin.” Ibu masih mencoba membujuk
putrinya itu yang menjelajahi setiap jengkal rumah mencari Deni.
“Engga! Biang kerok, keluar kamu!” teriak Niki setelah
mencari-cari seisi rumah tapi ia tak bisa menemukan kakaknya. Tiba-tiba pintu
depan rumah dibuka dengan keras hingga terdengar suara nyaring. Brak!
Ibu dan Niki menoleh, terlihatlah Deni yang berdiri
terengah-engah di depan pintu dengan wajahnya dipenuhi luka dan memar lagi.
“Astaghfirullah apa yang terjadi lagi sama kamu Den?”
kaget ibu. “Uang, aku butuh uang Ki. Kamu bisa minjemin aku uang ‘kan?” cetus
Deni begitu saja. Niki menggeram seperti banteng yang siap menyeruduk. “Uang
buat apa Den?” tanya ibu cemas melihat putranya seperti orang yang ketakutan
dan gelisah.
“Aku butuh uang Bu, uang yang ada di dalam lemari Niki
belum cukup. Mereka sedang menuju kesini. Kamu dan Ibu harus menyelamatkan aku
kalau tidak mereka akan memukuli aku sampai mati. Tolong!” pinta Deri sembari
memegangi kedua tangan Niki.
Dengan kasar Niki menepiskan tangan Deri. “Tidak! Biar
saja mereka memukuli kamu sampai mati! Sekarang mana uang yang Kakak ambil dari
lemariku?!” teriak Niki. “Tolong Ki, tolong, uang itu sudah aku bayarin buat
pinjol tapi aku masih butuh uang lagi, tolong bantu aku Ki,” mohon Deni kali
ini ia bersimpuh di depan adiknya.
“Astaghfirullah Den,” geleng ibu. “Kak, kamu tahu ga
kalau uang itu aku kumpulin bertahun-tahun sedikit demi sedikit dari hasil
kerja keras, dari hasil capekku?” sentak Niki dengan mata melotot. Deni
mengangguk-ngangguk. “Dan kamu tahu ga Kak kalau uang itu buat Ibu pergi
umrah!?” sentak Niki lagi. Deni menggeleng. “Aku ga tahu, aku pikir kamu
ngumpulin uang buat kawin.”
“Bukaaan!” gelegar Niki dengan suara keras. “Itu buat
Ibu umrah!! Aku belum bisa berangkatin Ibu naik haji tapi setidaknya aku ingin
mewujudkan impian Ibu dengan memberangkatkannya umrah dulu dan sekarang Kakak
mengacaukan semuanya!!” teriak Niki. Deni menunduk merasa bersalah.
“Nah akhirnya ketemu juga rumahnya setelah semua
tetangga pada ga mau ngomong, karena suara keras adik kecil ini,” celetuk suara
pria dari pintu depan. Niki, Ibu dan Deni yang masih bersimpuh, menoleh
bersama. Tampaklah tiga pria berwajah sangar dengan tubuh besar berdiri di
situ. Melihat kedatangan orang-orang itu Deni bersembunyi di balik ibunya.
“Heh siapa kalian?!” tanya Niki masih marah. “Lekum!
Perkenalkan saya Pak Jon,” kata seorang pria yang melangkah masuk ke dalam
rumah diikuti dua orang anak buahnya. “Anda belum dipersilakan masuk Pak,” kata
ibu. “Maaf Ibu, kami kemari hanya ada urusan dengan Deni,” tunjuk anak buah Pak
Jon pada Deni.
“Dia anak saya, ada apa dengan dia?” tanya ibu cemas
melihat ketiga pria sangar itu dan ibu sekarang tahu dari mana datangnya babak
belur di wajah putranya itu. “Oh kebetulan sekali, jadi Ibu adalah ibunya dan
adik kecil ini pasti adiknya,” tawa Pak Jon. Niki sudah bisa menebak siapa
ketiga orang ini. “Kalian debt collector ya? Kesini mau nagih
hutang bukan?” tebak Niki.
“Eits, bukan adik kecil, kita bukan debt
collector, karena wajah kita sangar dan badan kita gede belum tentu
kita debt collector,” geleng Pak Jon. “Saya bukan adikmu Pak,”
balas Niki tegas.
Pak Jon tertawa. “Ok, ok, jadi Nona … saya jelaskan …
saya adalah partner Deni dalam bisnis ikan lelenya … saya kasih dia modal untuk
bisnis … tapi modalnya habis, lelenya juga habis … dalam kesepakatan, dia akan
mengembalikan modal saya kalau bisnis ini gulung tikar, ini saya bawa dokumen
perjanjiannya di dalam map ini,” jelas Pak Jon seraya menunjukkan sebuah map di
tangannya, “tapi ternyata si belut ini, selalu kabur setiap saya tagih, jadi
saya terpaksa membawa dua teman saya dan memberikan sedikit kenang-kenangan di
wajahnya, supaya dia mau bertanggung jawab.”
Niki manggut-manggut, berkata, “Oh gitu, ok … silakan
bawa saja kakak saya Pak, mau digebukkin atau dipenjara silakan saja.” Ibu dan
Deni terkejut. “Ki, ini kakakmu loh,” kata ibu. “Ki, jangan gitu,” ucap Deni
memelas.
“Apa yang bisa diharapkan dari kamu Kak? Kamu punya
hutang di mana-mana, bisnismu selalu bangkrut! Minta duit terus tapi habis ga
jelas! Bahkan kamu baru saja mengambil uang buat ibu umrah! Keterlaluan banget
kamu Kak!” cerocos Niki marah.
Pak Jon dan kedua temannya terkejut. Pak Jon lalu
menghampiri Deni yang masih berlutut di lantai itu. Ibu terlihat khawatir saat
Pak Jon mendekati putranya. “Anak durhaka kau ya? Kau itu sudah gila apa?
Brengsek kau ya!” ucap Pak Jon sambil mengeplak kepala Deni berulang kali
dengan gulungan map.
“Harusnya kau malu sama adikmu yang bisa mengumpulkan
uang untuk umrah ibumu! Kau bikin malu keluarga kau saja!” lanjut Pak Jon
sambil terus mengeplakki kepala Deni dengan map. Deni hanya menunduk pasrah.
“Begini saja Pak Jon, beri kami waktu, biar kami coba
selesaikan hutang Deni pada Bapak, tapi kami minta waktu yang cukup panjang,
tolong Pak,” kata ibu membungkukkan badannya. “Bu!” kaget Niki geleng-geleng.
“Heh Brengsek, kau lihat itu ibumu sampai memohon-mohon buat kau!” kata Pak Jon
pada Deni lalu mengeplak kepala Deni lagi dengan map yang digulung.
“Karena saya iba sama Ibu, dan saya juga punya ibu dan
saya sangat menghormati seorang ibu, baiklah, saya kasih tempo, dalam satu dua
bulan ini, saya minta modal saya itu dikembalikan,” kata Pak Jon. “Terima kasih
Pak Jon,” angguk ibu. Niki berdecak kesal. Kemudian Pak Jon melangkah keluar
rumah diikuti kedua temannya itu.
Setelah mereka pergi. Ibu duduk lemas di sofa lamanya.
Deni masih berlutut dengan kepala menunduk. “Lihat apa yang kamu lakukan Kak?”
sinis Niki. Deni meneteskan air matanya. “Kamu harusnya jadi pengganti bapak,
jadi tiang untuk keluarga ini, tapi kamu malah jadi biang kerok, pengacau dan
pengangguran yang tak guna!” omel Niki.
Nafas Deni terdengar menderu-deru kemudian ia menatap
Niki dengan air mata di pipinya. “Jadi itu yang kamu lihat dari kakakmu ini?”
tanya Deni. Niki sedikit terkejut melihat bola mata kakaknya yang menatapnya
tajam itu meski air mata membasahinya. “Kamu ga inget sediki tpun soal lain
selain aku yang menganggur dan sering minjem duit sama kamu? Kamu ga inget
sedikit pun?! Yang kamu ingat hanya soal keburukkanku sajakah?” tanya Deni.
Niki terdiam.
“Kamu ga inget, kalau aku berhenti sekolah di STM itu
supaya kamu bisa melanjutkan sekolah SMA mu? Aku mengalah buat kamu! Kamu ga
inget, waktu bapak meninggal, aku yang mengurus semuanya, dari tagihan rumah
sakit sampai pemakaman? Saat itu kamu belum bisa apa-apa dan ibu sedang
bersedih. Lalu kamu ga inget waktu kamu dan ibu masuk rumah sakit karena covid
aku yang mengurus kamu dan ibu sendirian? Dan aku harus menjual semua lelenya
Pak Jon untuk ongkosku kesana kemari mengurus semua. Kamu ga inget waktu---“
“Sudah Den, sudah,” sahut ibu.
Niki menunduk ia ingat semua itu sekarang.
Deni berdiri dari berlututnya. “Apakah hanya
keburukanku yang kamu ingat Ki? Apa kamu ga ingat kalau aku juga ada jasanya,
ada gunanya di keluarga ini, aku juga mau berangkatin ibu umrah, bukan kamu
saja,” kata Deni bergetar. Niki menggigiti bibirnya, ia tersedak sedih.
“Kalau aku memang pengangguran tak guna, hanya biang
kerok dan pengacau di keluarga ini, aku lebih baik pergi dari rumah ini,” kata
Deni lalu melangkah. “Den!” kaget ibu. Niki dengan cepat menahan kakaknya
dengan memegang tangannya. “Kak, aku … aku minta maaf … aku kasar dan tidak
adil dalam melihat Kakak … iya aku ingat semuanya … jangan pergi Kak … Kakak
adalah pengganti bapak untuk kita,” mohon Niki.
Deni menunduk lalu memeluk adiknya. “Kita akan cari
sama-sama uang untuk ganti modal Pak Jon dan umrah ibu, aku ikhlas uang umrah
ibu buat bayar hutangmu Kak,” ucap Niki. Deni mengangguk. “Aku akan bantu dan
janji tidak akan berhutang lagi.” Ibu meneteskan air mata penuh haru melihat
kedua anaknya itu.
“Keputusan kamu tepat Ki, uang masih bisa dicari.
Sekarang nyawa kakakmu lebih berharga, kakakmu memang salah tapi kalau bukan
kita, siapa lagi yang bisa menolong kakakmu. Mengikhlaskan sesuatu yang sudah
hilang itu memang sulit, tapi justru yang lebih sulit lagi adalah
mempertahankan yang kita punya. Kita nabung sama-sama lagi ya. Bapak pasti
bangga melihat kerukunan dan kekompakan kalian berdua,” senyum ibu lalu
merangkul kedua anaknya.
“Ya Allah Ki, jadi kejutannya ga jadi, malah
uangnya buat bayar hutang kakakmu ya? Kamu yang sabar ya Ki,” kata Keysha
merangkul bahu Niki. Niki mengangguk. “Manusia berencana tapi Tuhan berkehendak
Sha,” ujar Niki tersenyum ikhlas.
“Ki, biar aku bantu untuk bayar hutang ke Pak Jon itu,
aku punya tabungan. Masalah ngembaliinnya gimana entar aja," kata Bima.
Niki menggeleng. “Jangan Bim, aku mau coba pinjam ke tempat kerja saja.” Bima
menghela nafas dan sudah terbiasa ditolak oleh Niki. Bima tersenyum, “Ya udah,
aku paham. Tapi kalau kamu butuh bantuan, jangan ragu untuk meminta ya.”
“Iya, Ki. Kami selalu ada untuk kamu. Jangan ragu
untuk meminta bantuan kalau kamu butuh,” tambah Keysha. "Makasih Sha, Bim.
Kalian memang sahabat terbaikku,” ucap Niki. Tiba-tiba telepon genggam Niki
berbunyi. Niki mengangkat teleponnya. Setelah mengucapkan salam terdengar suara
Deni di ujung telepon sana.
“Ki, ke rumah sakit ya sekarang!”
Niki mengerutkan kening, “Ada apa Kak?”
“Ibu tadi jatuh di kamar trus aku bawa ke rumah
sakit,” jawab Deni. Niki tertawa. “Kamu mau ngerjain aku lagi ya Kak?” Keysha
dan Bima saling pandang. “Kakaknya ngebohong lagi? Katanya udah tobat,” kata
Keysha. Bima mengangkat kedua bahunya. “Serius Ki, ibu jatuh … sebentar,” kata
Deni lalu mematikan teleponnya.
Niki masih tertawa. “Dia pikir dia bisa ngebohongin
aku lagi Sha.” Keysha dan Bima geleng-geleng. Deni menelepon Niki lagi kali
ini video call. Niki mengangkatnya lalu tampaklah sebuah gambar.
“Tuh lihat! Ga percaya sih!” cetus Deni menujukkan ruang rawat IGD.
“Astaghfirullah Ibu!” teriak Niki.
Niki berlari-lari kecil di lorong rumah sakit menuju ruang rawat IGD. Di
belakangnya tampak Bima dan Keysha mengikuti. Bima menghentikan larinya. “Sha,
kamu duluan, aku ada perlu dulu,” kata Bima. “Kamu mau kemana Bim?” tanya
Keysha tapi Bima tak menjawab ia sudah berlalu menuju sekumpulan dokter dan
beberapa orang berpakaian rapi yang tengah berjalan di gedung bagian manajemen
rumah sakit.
“Aku bilang juga apa, aku udah ga bohong-bohong lagi Ki,” kata Deni
pada Niki
yang telah samapi di depannya. “Trus kondisi ibu gimana?” tanya Niki cemas. “Dokter yang
kemarin periksa ibu, bilang, ibu Cuma kecapean dan obat diabetnya kayaknya lupa
diminum sama ibu,” jawab Deni. “Ya Allah ibu, sudah aku wanti-wanti jangan
sampai lupa minum obatnya padahal,” kata Niki.
“Silakan kalau mau masuk ke dalam,” ujar seorang suster setelah
mengurus ibu. Niki, Deni juga Keysha yang baru datang, bersama-sama masuk ke dalam
ruangan rawat. Niki memeluk ibunya. “Ibu bikin aku khawatir saja deh, tadi aku pikir Kak
Deni ngebohong lagi.” Ibu tertawa. “Aku ‘kan sudah tobat Ki,” cengir Deni.
“Eh Sha, mana Bima? Tadi dia ada,” tanya Niki sambil celingukan mencari Bima. “Ehem! Cie ada
yang nyariin Bima nih,” goda Keysha. Niki jadi malu-malu sedang ibu dan Deni tersenyum.
“Ga tahu kemana dia, Cuma tadi dia bilang ada perlu, mungkin pulang duluan,”
jawab Keysha.
“Selamat sore semua, ini Ibu Dewi?” tanya seorang pria berambut dan
berjanggut putih. Niki langsung mencolek lengan ibunya dan berbisik, “Ini pria yang waktu itu
Bu.” Ibu mengerutkan kening. “Iya saya Ibu Dewi,” jawab ibu, “apakah saya kenal
dengan Bapak?”
“Saya Hilal Bu, saya sudah duga Ibu pasti lupa, tapi saya tidak pernah
lupa pada orang-orang yang telah menolong saya. Ingatkah Ibu waktu bersama
suami ibu menolong seorang laki-laki yang tertabrak mobil saat sedang bersepeda
pagi?”
“Ya Allah, iya saya baru ingat, tapi, itu sudah lama sekali … dan suami
saya juga sudah wafat sekarang,” kata ibu. “Iya saya tahu itu, sayang sekali
saya tidak bisa bertemu beliau secara langsung untuk mengucapkan terima kasih,”
ucap Hilal sedih. “Lalu bagaimana Bapak bisa tahu saya di sini?” heran ibu.
Hilal tertawa, “Ya inilah takdir Tuhan kita bertemu di sini, lama saya
mencari-cari Ibu dan bapak, hingga tak dinyana, Tuhan mempertemukan kita dari
jalan yang tak diduga. Waktu itu, Ibu dan bapak tidak hanya menolong saya
dengan membawa saya ke rumah sakit tapi bapak juga mendonorkan darahnya untuk
meyelamatkan nyawa saya … saya tidak akan pernah lupa kebaikan bapak dan Ibu.
Saya berharap bisa membalas kebaikan kalian suatu hari nanti, dan hari itu
adalah hari ini.”
Ibu menggeleng. “Tidak usah repot-repot Pak, kami menolong tanpa
pamrih.” Hilal tersenyum, “Saya tahu pasti itu, oya, Niki sedang magang di
perusahaan Gemilang Farma Laboratories bukan?” Niki mengangguk seraya bingung. “Kok Bapak tahu?” Hilal
tertawa. “Ki, emang kamu belum pernah lihat siapa pemilik perusahaan itu?”
tanya Keysha.
“Selama magang di sana belum pernah ketemu,” geleng Niki. “Ya Pak Hilal ini
pemiliknya!” cetus Keysha. “Astaghfirullah, yang bener Pak?” seru Niki tak percaya. Hilal
mengangguk, “Rumah sakit ini adalah rekanan perusahaan kita, makanya saya kenal
dengan semua dokter di sini.” Niki menepuk jidatnya lalu bergegas menyalami tangan pria tersebut tak
ketinggalan Deni juga menyodorkan tangannya. “Kalau butuh tenaga buat
angkut-angkut obat, saya siap Pak,” kata Deni. Hilal manggut-manggut tersenyum
dan membalas jabat tangan tersebut.
“Jadi, langsung saja ya, begini, saya dan keluarga akan naik haji
furoda tahun ini dan meminta Ibu Dewi bersama keluarga juga untuk bergabung
bersama kami,” ucap Hilal menyampaikan maksud kedatangannya.
“Apaa?” kaget Niki, “tapi haji furoda ‘kan mahal banget!” Kesyha menyenggol bahu Niki. “Uang bukan masalah
buat beliau Ki,” bisiknya. “Selain itu, saya juga akan mengangkat kamu, Niki, sebagai pegawai
tetap di perusahaan saya setelah kamu lulus kuliah nanti dan buat kakakmu kita
akan bicarakan dengan pihak rumah sakit, barangkali ada pekerjaan yang bisa
dilakukan kakakmu di sini,” kata Hilal.
“Serius Pak?” tanya Niki gemetar.
Hilal mengangguk tanpa ragu. “Ya Allah! Alhamdulillah!” seru Niki lalu memeluk ibunya.
Ibu tampak meneteskan air mata. Ia teringat suaminya. Saat ia dan suaminya
menolong Hilal, mereka tidak mengharapkan imbalan apa pun. Tapi sekarang Allah
membalasnya dengan mewujudkan impian mereka sekaligus. Ini seperti keajaiban, buah
dari kesabaran dan keikhlasan. Deni tampak sumringah. Keysha pun ikut bahagia
melihat mereka.
Seminggu sebelum keberangkatan ke tanah suci, Hilal
mengundang keluarga Niki untuk makan malam bersama keluarganya. Dengan senang
hati Niki, ibu dan Deni menerima undangan tersebut. Malam itu mobil taksi
mereka sampai di depan sebuah rumah mewah. Deni terkesima melihat kemewahan
rumah tersebut. “Masya Allah, rumahnya bagus banget,” gumam Deni. “Jangan norak
deh,” bisik Niki menyenggol lengan Deni dan memberi tanda untuk masuk.
Mereka masuk ke dalam rumah yang disambut oleh Hilal
dan keluarga. Suasana sukacita begitu terasa. Berbagai hidangan tradisional
Indonesia tersaji di atas meja makan. Mereka bertegur sapa dan dengan cepat
terjalin keakraban. “Oya, saya juga ingin memperkenalkan anak saya yang akan
bergabung dengan kita ke tanah suci nanti,” ujar Hilal memperkenalkan anaknya.
Niki terkejut saat melihat anak Hilal itu.
Mulutnya terbuka lebar.
“Assalamualaikum selamat malam semuanya,” sapanya
ramah.
“Apa? Bima??” seru Niki tak percaya.
Bima tertawa dan di belakangnya juga muncul Keysha.
“Apa? Kamu juga anaknya Pak Hilal Sha?” kaget Niki. Kesyha menggeleng. “Engga,
cuma Bima doang hehehe,” kekeh Keysha. Bima mencium tangan ibu dan bersalaman
dengan Deni. Niki masih mencoba mencerna semuanya. “Jangan bingung gitu deh,”
senyum Bima. “Bisa ceritain gimana semua jadi nyambung begini?” tanya Niki pada
Bima. Semua tertawa melihat wajah Niki yang bingung.
“Jadi gini Ki … papa itu pernah cerita kalau dulu dia
pernah ditolong sama pasangan suami istri saat kecelakaan bersepeda dan beliau
bertekad untuk mencari pasangan suami istri tersebut, karena pasangan suami
istri itu pergi setelah mendonorkan darahnya… beberapa tahun kemudian kita jadi
temen di kampus … awalnya aku ga tahu kalau orang tuamu lah penyelamat papa,
hingga saat aku cerita sama papa kalau aku punya teman dekat yaitu kamu dan
Keysha, aku menunjukkan sosial media Keysha juga kamu, nah saat papa lihat
sosmedmu, beliau terkejut saat melihat foto orang tuamu …”
“Beliau ingat sekali dengan wajah orang tuamu
karena sebelum pingsan, papa mengingat-ngingat wajah para penolongnya saat di
dalam ambulan menuju rumah sakit …” jelas Bima, “setelah itu ya, papa selalu
memintaku untuk menjagamu.”
Niki merasa bahagia sekaligus malu. “Itulah sebabnya
kamu selalu ingin membantuku? Apakah program magang itu juga bagian dari caramu
untuk menjagaku?” tanya Niki. “Ya bisa dibilang begitu, tapi ada alasan lebih
dalam dari pada itu,” kata Bima. Niki terdiam ia sudah bisa menduga kemana
arahnya.
“Baiklah, sekarang sebaiknya kita tinggalkan muda-mudi
ini berdua, kita kasih ruang privasi buat mereka, ayo semua, kita ke ruang
makan!” ajak Hilal. “Ayo!” seru Deni tertawa. Niki menatap ibu. “Kamu tahu yang
terbaik buatmu Ki,” bisik ibu sebelum ke ruang makan. Keysha menepuk bahu Bima
lalu mengedipkan mata pada Niki. “Aku tunggu kabar gembiranya di ruang makan
ya,” senyumnya lalu pergi menyusul yang lain.
Kini tinggallah Bima dan Niki yang berdiri
berhadap-hadapan.
Niki menatap Bima. “Aku sudah tahu isi perasaanmu
Bim,” kata Niki membuka pembicaraan lebih dulu. Bima terdiam hatinya gelisah.
“Setelah semua yang aku lakukan?” tanya Bima. Niki mengangguk. “Kamu sudah tahu
apa jawabanku Bim, kamu tidak perlu menanyakannya lagi,” ucap Niki. Bima
menghela nafas lalu mengangguk-ngangguk lesu.
Sementara itu di ruang makan semua orang tampak ramai
menyantap hidangan nusantara yang tersaji. Mereka makan dengan lahap dan penuh
dengan tawa canda. Suara denting sendok yang bersentuhan dengan piring
terdengar semarak. Makanan-makanan nikmat berpindah dari piring ke dalam perut.
Semua orang bersuka cita.
Hingga terdengar suara teriakan Bima yang mengagetkan
semua orang. Mendadak suasana makan malam menjadi sunyi. Semua orang terdiam.
“Apa yang terjadi?” bisik Keysha. “Sepertinya ada yang kecewa,” balas Deni.
Semua orang jadi cemas menunggu kedatangan Bima dan Niki dari ruang tamu.
Tak lama, datanglah Bima dan Niki. Mereka berjalan
lesu dan berjarak. Niki berjln di depan sedang Bima tampak menunduk berjalan di
belakangnya. Semua orang tampak was-was dan tegang. “Ada apa Bim? Ki?” tanya Hilal.
Mereka terdiam. “Kalau memang belum jodoh, ya tidak usah dipaksakan,” senyum Hilal
mencoba menenangkan.
Bima mendongakkan kepalanya lalu menatap pada semua
orang di ruangan makan tersebut. “Pa, Ma, perkenalkan inilah calon mantu
kalian,” ucap Bima menggandeng lengan Niki sambil tertawa. “Oalah! Kalian
ngerjain kita semua toh!” kaget Hilal lalu tertawa. Semua orang pun menghela
nafas lega dan bertepuk tangan.
“Reseh kalian berdua ya!” sebal Kesyha lalu memeluk
Niki mengucapkan selamat juga pada Bima. Deni tak ketinggalan mengucapkan
selamat juga pada adiknya dan Bima. “Hey adik ipar, ada seratus?” selorohnya.
Bima tertawa. Mereka berangkulan. Niki menghampiri ibunya lalu memeluknya erat.
Mereka sangat berbahagia.
Lika-liku perjalanan membahagiakan orang tua memang
cukup berat. Namun, jika kita yakin dan percaya, Tuhan pasti akan menuntun kita
pada jalannya. Meskipun melelahkan, penuh batu kerikil dan jalan yang rumit.
Pada akhirnya akan ada hal yang indah ketika kita bersabar dan terus berjuang
karena kesabaran itu buahnya manis. Manis seperti madu, bahkan lebih dari itu.
TAMAT

0 Komentar